Maafku Untuk Bunda

Entahlah, apa yang aku rasakan dan fikirkan sama dengan orang lain. Yang pasti satu hal yang aku tidak kuasa melinangkan air mata tatkala aku melihat beliau dalam kesusahan.

Sebuah pengalaman tentang hidup aku dapatkan dari seorang ibu, ibu yang telah mengandungku. Ia curahkan kasih sayangnya, pepatah-pepatahnya dan apa yang dilakukannya adalah suatu yang terbaik dan yang terindah yang diberikannya kepadaku.

Satu hal yang dapat aku kenang saat itu tentang bagaimana susahnya ia menjalani hidup, ditengah kesendirinnya tanpa suami, beliau terus berjuang mencari nafkan dan biaya sekolah untuk aku, dan ketiga adikku. Kulihat ia tengah bersusah menggapai apa yang ia cita-citakan tentang anak-anaknya, yang aku tahu, ia tiada mengeluh dan menyerah, selalu dikerjakan sesuatu yang menurutku itu tidak dalam jalur keibuannya. Coba saja bayangkan, ia rela berpisah dengan anak-anaknya untuk menjadi pembantu di Jakarta, demi apa ? Demi aku dan adik-adikku.

Aku tahu, ia tidak pernah mempercayai siapapun mengurus anak-anaknya, ia takut anaknya akan dididik pada jalur yang salah. Aku mengerti sekali akan perasaannya. Sedih, galau, cemas pastilah beraduk dalam perantauan.

Baru kali ini aku menyadari betapa banyak dosa yang aku perbuat padanya, entah seberapa banyak, entah sebesar apa dosaku padanya. Aku baru tahu pentingnya hidup setelah aku dewasa kini, betapa susah menjalani hidup dan mencari suatu sumber tentang hidup.

Banyak hal yang harus aku bayar untuk perjuangannya. Untuk kali ini belum bisa aku membayar jasa-jasanya, juga belum aku melaksanakan apa yang dicita-citakannya terhadapku.

Bunda, maafkan aku

1 Komentar untuk "Maafku Untuk Bunda"

Unknown mengatakan...

sebuah titik kesadaran yg mengangumkan, semoga pengorbanan sang bunda tidak sia-sia! beruntunglah bagi Ananda dan adik2 :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel